Sejarah Singkat Kebudayaan Jawa

Kesenian Jawa diduga telah mulai awal kehidupan manusia di sana. Ini berarti sejak masa prasejarah yang tertua kesenian mestinya telah rnenandai kehidupan manusia. Namun sayang, temuan yang mendukung perkiraan ini belurn dijumpai, khususnya untuk masa yang tertua, yaitu paleolitikurn dan mesolitikum. Tanda-tanda kehadiran seni barulah muncul pada rnasa bercocok tanarn yang sejalan dengan masa neolitikurn. Pada masa ini orang mulai menetap dan Mengembangkan teknologi peralatannya. Kemarnpuan bercocok tanam , yang memberikan kernungkinan kepada manusia untuk menyediakan tandon rnakanan , pada gilirannya memberinya pula peluang untuk menyisihkan waktu guna kegiatan-kegiatan di luar bertanam . Waktu luang itu memungkinkan pula untuk berkesenian. Mernperindah penampilan peralatan yang digunakan sehari-hari seperti kapak, berbagai jenis wadah, bahkan juga rumah. 

Perkembangan kesenian di Jawa akan clibicaakan mengikuti zaman-zaman baru berurut, yaitu zaman prasejarah, zaman Hindu-Buddha, dan zaman Islam. Ketiga zaman inilah yang dianggap memberikan dasar bagi ciri-ciri khusus kesenian Jawa. Masa kolonial tidak akan dibahas dalain sub-sub tersendiri , dengan alasan bahwa kesenian barat belum dapat dikatakan memberikan sumbagan yang diterima dan diserap sedemikian rupa dalam kesenian Jawa sehingga menjadi ciri khas Jawa juga. Secara garis besar dapat dipilih tiga golongan seni, yaitu seni rupa, seni pertunjukan, dan seni sastra. Seni rupa di Jawa mengambil berbagai wujud, yaitu seni pahat yang meliputi pula area, rilief dan bangunan secara keseluruhan, seni keramik, seni gambar, dan seni tekstik. Termasuk ke dalam seni rupa pula adalah seni membuat boneka wayang, baik dari kulit maupun kayu. Bonekanya tergolong seni rupa, meskipun pertunjukan wayangnya sendiri tergolong seni pertunjukan. Selain pertunjukan wayang dengan boneka, yang tergolong seni pertujukan juga adalah berbagai bentuk musik, tari dan pertunjukan-pertunjukan bercerita yang peranperannya dimainkan oleh manusia. Adapun yang tergolong sastra adalah berbagai karya yang berbentuk prosa maupun puisi. Di antara puisi yang dikenal dalam kebudayaan Jawa dapat disebut kakawin untuk sastra Jawa kuno, yang diilhami oleh kavya Sanskerta, di samping macapat yang merupakan bentuk Indonesia asli. Di samping itu pula terdapat bentuk syair dan pantun, yang juga menandai rumpun sastra Melayu.

1. Masa Praaksara

Pada masa praaksara, masyarakat Jawa hidup secara nomaden dan kemudian mulai menetap serta bercocok tanam. Budaya megalitik seperti dolmen, menhir, dan punden berundak mulai dikenal, yang kelak menjadi dasar bentuk candi di masa berikutnya.

Seni Rupa: Lukisan gua (misalnya di Gua Pawon dan Gua Braholo), pola geometris di alat-alat batu, simbol-simbol alam.

Seni Arsitektur: Punden berundak, dolmen, menhir — struktur batu sebagai tempat pemujaan roh leluhur.

Seni Pertunjukan & Sastra: Belum terdokumentasi, tapi kemungkinan sudah ada bentuk nyanyian ritual dan tarian spiritual.

2. Pengaruh Hindu-Buddha (± Abad ke-4 – ke-15 M)

Masuknya agama Hindu dan Buddha membawa perubahan besar dalam kebudayaan Jawa. Kerajaan besar seperti Tarumanegara, Mataram Kuno, Kediri, Singasari, dan Majapahit menjadi pusat budaya dan ilmu. Candi seperti Borobudur dan Prambanan menjadi simbol kejayaan budaya ini. Bahasa Sanskerta dan aksara Jawa Kuno juga berkembang pesat.

Kesenian Masa Hindu-Buddha (± Abad ke-4 – 15 M):

Seni Rupa

Ciri: Simbolisme Hindu-Buddha, patung dewa, relief kisah epik. Contoh: Patung Dewa Wisnu, relief Ramayana di Candi Prambanan, arca Buddha di Borobudur.

Seni Arsitektur

Ciri: Struktur candi berundak simetris, mandala, orientasi spiritual.

Contoh: Candi Borobudur (Buddha), Candi Prambanan (Hindu), Candi

Penataran.

Seni Pertunjukan

Ciri: Wayang berbasis Mahabharata-Ramayana, tari klasik untuk upacara kerajaan.

Contoh: Wayang kulit purwa, tari Gambyong awal, musik gamelan berkembang sebagai pengiring ibadah dan pertunjukan istana.

Seni Sastra

Ciri: Menggunakan aksara Jawa Kuno & Sanskerta, kisah epos dan ajaran filsafat.

Contoh: Kakawin Ramayana, Arjunawiwaha (Mpu Kanwa), Sutasoma (Mpu Tantular).

3. Pengaruh Islam (± Abad ke-15 – ke-18 M)

Dengan runtuhnya Majapahit, kerajaan-kerajaan Islam seperti Demak, Mataram Islam, dan Banten muncul. Islam disebarkan melalui pendekatan budaya oleh para Wali Songo, yang menyatukan ajaran Islam dengan nilai-nilai lokal. Tradisi seperti wayang, gamelan, dan sekaten tetap hidup dengan sentuhan Islami.

Kesenian Masa Islam (± Abad ke-15 – 18 M):

Seni Rupa

Ciri: Motif non-figuratif, geometris, kaligrafi Arab, batik berkembang.

Contoh: Batik motif truntum, parang; ornamen masjid yang minimalis.

Seni Arsitektur

Ciri: Gabungan lokal dan Islam — atap tumpang, mihrab, menara khas.

Contoh: Masjid Agung Demak, Masjid Menara Kudus.

Seni Pertunjukan

Ciri: Wayang tetap hidup tapi disisipkan nilai Islam, seni suluk dan shalawatan.

Contoh: Wayang Wahyu, Sekatenan, tari Bedhaya ditata ulang untuk ritual Islam.

Seni Sastra

Ciri: Bahasa Jawa modern awal, tema sufistik dan dakwah.

Contoh: Serat Centhini, Babad Tanah Jawi, Suluk Walisongo.

4. Masa Kolonial dan Perubahan Sosial

Masa penjajahan Belanda dan Jepang membawa pengaruh Barat dalam sistem pendidikan, hukum, dan arsitektur. Meskipun banyak tekanan, budaya Jawa tetap bertahan dan mengalami adaptasi, terutama dalam sastra dan seni rupa.

Kesenian Masa Kolonial (± Abad ke-19 – awal 20 M):

Seni Rupa

Ciri: Masuknya teknik lukis Barat, potret realis, batik jadi komoditas ekspor.

Contoh: Lukisan Raden Saleh, batik pesisir dan keraton.

Seni Arsitektur

Ciri: Perpaduan arsitektur kolonial dan lokal.

Contoh: Keraton Yogyakarta (perluasan), bangunan kolonial di kota lama Semarang dan Surabaya.

Seni Pertunjukan

Ciri: Gamelan dan tari mulai dipentaskan secara publik, muncul ketoprak dan ludruk.

Contoh: Ketoprak, ludruk, pertunjukan gamelan di Belanda.

Seni Sastra

Ciri: Terbentuknya sastra modern awal dalam bahasa Jawa dan Melayu

Contoh: Serat Wedhatama, Serat Wulangreh (oleh Mangkunegara IV).

5. Budaya Jawa Modern

Saat ini, kebudayaan Jawa mengalami modernisasi namun tetap mempertahankan nilai-nilai tradisional. Tradisi seperti batik, keris, wayang, gamelan, dan upacara adat masih dijaga dan dilestarikan. Bahasa Jawa pun masih digunakan di berbagai lapisan masyarakat.

Kesenian Masa Modern & Kontemporer (Abad ke-20 – Sekarang):

Seni Rupa

Ciri: Eksperimen media baru, tema identitas Jawa modern.

Contoh: Karya-karya Affandi, Heri Dono, mural tradisi kontemporer.

Seni Arsitektur

Ciri: Pelestarian keraton dan situs, penggabungan modern-minimalis dengan ornamen Jawa.

Contoh: Revitalisasi keraton, museum, rumah joglo modern.

Seni Pertunjukan

Ciri: Kolaborasi dengan media digital, pertunjukan teater dan seni tari modern bercorak Jawa.

Contoh: Teater Garasi, Wayang Virtual, festival tari Yogyakarta.

Seni Sastra

Ciri: Puisi dan prosa Jawa modern, penggunaan media sosial sebagai platform sastra.

Contoh: Sastra Jawa kontemporer di koran, cerpen dalam bahasa Jawa di media online.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gamelan Sebagai Alat Musik Jawa Tengah